13 Seniman dan Budayawan Banjarmasin Terima Penghargaan

Sebanyak 13 seniman dan pelaku budaya di Kota Banjarmasin ditetapkan sebagai penerima Penghargaan Seniman Tahun 2026. Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas rekam jejak karya, dedikasi, serta kontribusi mereka dalam mengembangkan dan melestarikan seni dan budaya di Kota Seribu Sungai.

Penetapan 13 penerima penghargaan tersebut berdasarkan hasil Rapat Koordinasi Kegiatan Penghargaan Seniman Tahun 2026 yang dilaksanakan pada Rabu, 9 September 2026, pukul 10.00 WITA hingga selesai.

Rapat dipimpin Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Kota Banjarmasin, dengan melibatkan tim pembahas penghargaan seniman dan jajaran Bidang Kebudayaan.

Dalam notulensi rapat disebutkan, terdapat 26 calon penerima penghargaan yang belum pernah menerima penghargaan serupa sebelumnya. Tim pembahas kemudian melakukan seleksi dan verifikasi berdasarkan rekam jejak karya, dedikasi, serta kontribusi para calon dari berbagai bidang seni dan budaya.

Setelah melalui proses musyawarah dan mufakat, ditetapkan 13 nama penerima penghargaan yang mewakili bidang seni sastra, seni rupa, seni tari, seni teater, seni musik, pembinaan, pelestarian, pengembangan, pemerhati, pelopor, serta film dan media rekam.

Ketiga belas penerima tersebut yakni Fatimah Adam pada bidang seni sastra, Akhmad Noor pada seni rupa, Rahmani pada seni tari, Rina Radina pada seni teater, Wijaya Kusuma dan Abdurrahman pada seni musik, Suwarjia pada bidang pembina, Gusti Hidayat dan Gusti Pasurna pada bidang pelestari, Surya Tajudin pada bidang pengembang, Nailia Nikmah pada bidang pemerhati, Munir Shadikin pada bidang pelopor, serta Ade Hidayat pada bidang film dan media rekam.

Apresiasi untuk Beragam Bidang Seni

Sejumlah penerima penghargaan memiliki rekam jejak panjang dalam bidangnya masing-masing. Fatimah Adam, misalnya, dikenal melalui kiprahnya dalam dunia sastra sejak dekade 1980-an. Ia kerap menjuarai lomba deklamasi, baca puisi, dan puisi Al-Qur'an di tingkat Kota Banjarmasin maupun Kalimantan Selatan. Ia juga mulai menulis puisi sejak dekade 1990-an.

Karya-karyanya antara lain termuat dalam sejumlah antologi, seperti Antologi Puisi Banjarmasin tahun 1990, Tadarus Puisi Islami tahun 1998, Dimensi yang merupakan antologi puisi 10 penyair Banjarbaru tahun 2004, serta Sepanjang Siring Laut, bunga rampai puisi dalam rangka hari jadi Kabupaten Kotabaru ke-68 pada 2018.

Di bidang seni rupa, Akhmad Noor tercatat sebagai bendahara Sanggar Seni Rupa Sholihin. Ia pernah mengikuti sejumlah pameran, di antaranya pameran bertajuk Mengaji Warna Damai Kota Seribu Sungai di Banjarmasin pada 2015, pameran Banjarmasin Kota Budaya, Kota Seribu Sungai di Rumah Anno 1925 pada 2016, Pameran Besar Seni Rupa Nusantara IV di Manado pada 2016, serta pameran Arus: Kiambang Bertaut di Kampung Ketupat Banjarmasin pada 2023.

Sementara itu, Rahmani memiliki kontribusi dalam pengembangan seni tari berbasis riset kebudayaan lokal Kalimantan. Sejumlah karyanya antara lain koreografi Tulak Manyambang, Maharagu Karsa, dan Tari Balingkah. Karya-karya tersebut tercatat memperoleh pencatatan hak kekayaan intelektual (HAKI), sebagaimana dijelaskan dalam dokumen rekam jejak calon penerima penghargaan.

Pada bidang seni teater, Rina Radina tercatat aktif berkesenian sejak 1990 hingga sekarang. Kiprahnya tidak hanya di Kalimantan Selatan, tetapi juga melalui pementasan di luar daerah, antara lain Surabaya, Yogyakarta, dan Nusa Tenggara Barat.

Pelestarian Seni Tradisional Banjar

Penghargaan juga diberikan kepada tokoh yang berperan dalam menjaga keberlangsungan seni tradisional Banjar.

Gusti Hidayat merupakan salah satu pelestari seni dan budaya tradisional Banjar yang memiliki perhatian terhadap kesenian damarwulan. Kesenian tersebut memiliki nilai historis dan budaya yang menjadi bagian dari warisan tradisional masyarakat Banjar.

Dedikasinya dalam menjaga keberlangsungan kesenian tradisional menjadi salah satu catatan dalam dokumen rekam jejak penerima penghargaan. Selain itu, Gusti Pasurna juga masuk dalam daftar penerima penghargaan pada kategori pelestari, khususnya melalui kiprahnya dalam seni balamut.

Di bidang pembinaan, Suwarjia ditetapkan sebagai penerima penghargaan atas kiprahnya sebagai seniman tari sekaligus pengajar di Kota Banjarmasin.

Adapun di bidang musik, Wijaya Kusuma tercatat sebagai seniman musik asal Banjarmasin. Abdurrahman atau yang dikenal sebagai Aman Babun merupakan seniman senior, praktisi musik, sekaligus penasihat dalam pelestarian musik panting khas suku Banjar.

Dalam dokumen tersebut, Aman Babun tercatat memiliki sejumlah prestasi, antara lain Juara I Musik Terbaik Tingkat Nasional di Jakarta pada 1995, Penata Musik Terbaik se-Kalimantan Selatan pada 1995, serta Juara I Festival Babun se-Kalimantan Selatan pada 1999.

Sementara itu, Surya Tajudin dikenal sebagai musisi, pendiri sekaligus pemimpin grup musik perkusi Chatacuk Percusion. Ia juga tercatat sebagai tokoh dalam grup musik Ugahan dan menerima penghargaan pada kategori pengembang.

Tokoh Sastra, Film, dan Media Rekam

Pada kategori pemerhati, Nailia Nikmah ditetapkan sebagai penerima penghargaan. Ia dikenal sebagai akademisi, akuntan, sastrawan, penyair, sekaligus novelis asal Banjarmasin.

Salah satu karyanya, novel Sekaca Cempaka yang terbit pada 2014, terpilih sebagai novel unggulan dalam Lomba Menulis Novel Aruh Sastra Kalimantan Selatan 2013 sebelum diterbitkan secara nasional oleh Elex Media Komputindo.

Karya puisinya, Romansa Tanah Basah, juga masuk dalam jajaran 15 puisi nominasi terbaik pada ajang Aruh Sastra Kalimantan Selatan 2013. Karya-karyanya turut dimuat dalam berbagai antologi, di antaranya Nyanyian Tanpa Nyanyian (2007) dan Konser Kecemasan (2010).

Pada kategori pelopor, Munir Shadikin menerima penghargaan atas kiprahnya dalam ekosistem perfilman independen di Kalimantan Selatan. Ia memiliki pengalaman dalam produksi film, penyutradaraan, penulisan, serta penyuntingan gambar.

Beberapa karya yang tercatat dalam dokumen tersebut antara lain film pendek Papo (2023) sebagai produser dan Panglima Tanpa Kepala (2019) sebagai asisten sutradara. Ia juga terlibat dalam sejumlah produksi lain, termasuk film panjang Badrun (2023) dan Samamah (2022) sebagai editor.

Sementara itu, Ade Hidayat atau Ali Hidayat, sutradara dan sinematografer asal Banjarmasin, ditetapkan sebagai penerima penghargaan pada kategori film dan media rekam.

Sejumlah karya yang disebutkan dalam dokumen tersebut meliputi Ambivalence, Kalau Saja, Badrun, dan Loundri. Kiprahnya menjadi bagian dari perkembangan perfilman dan industri kreatif di Kalimantan Selatan.

Penetapan 13 penerima penghargaan ini mencakup beragam bidang dan latar belakang, mulai dari seniman yang telah berkarya selama puluhan tahun hingga pelaku kreatif yang berkontribusi terhadap perkembangan seni pertunjukan, sastra, musik, seni rupa, dan perfilman.

Penghargaan Seniman Tahun 2026 diharapkan menjadi bentuk pengakuan terhadap kontribusi para pelaku seni sekaligus mendorong keberlanjutan ekosistem kebudayaan di Kota Banjarmasin. (Zahidi)

Lebih baru Lebih lama


Iklan

نموذج الاتصال