Iran "Rawe-rawe Rantas, Malang-malang Putung": Amerika-Israel Kehilangan Dominasi?

Ungkapan “rawe-rawe rantas, malang-malang putung” mencerminkan semangat perlawanan tanpa kompromi. Dalam konteks geopolitik Timur Tengah, narasi ini sering dilekatkan pada Iran yang dikenal konsisten menantang dominasi Amerika Serikat dan Israel. Namun, apakah benar kedua kekuatan besar tersebut telah “lempar handuk”? Atau ini sekadar konstruksi narasi yang lahir dari dinamika konflik yang kompleks?

Iran dalam beberapa dekade terakhir memang menunjukkan sikap politik luar negeri yang konfrontatif terhadap Amerika dan Israel. Dari dukungan terhadap kelompok-kelompok proksi hingga pengembangan kekuatan militernya, Iran berupaya membangun posisi tawar yang kuat di kawasan. Ini membuatnya tampil sebagai aktor yang tidak mudah ditekan.

Di sisi lain, Amerika Serikat tetap menjadi kekuatan global dengan kapasitas militer terbesar di dunia. Israel juga memiliki keunggulan militer dan teknologi yang signifikan di kawasan Timur Tengah. Menyebut keduanya “menyerah” jelas terlalu jauh dari realitas. Namun, tidak dapat disangkal bahwa mereka menghadapi tantangan yang semakin kompleks.

Strategi Iran tidak selalu berbentuk konfrontasi langsung. Justru kekuatannya terletak pada pendekatan asimetris. Iran memainkan perang tidak langsung melalui jaringan pengaruh di berbagai wilayah. Ini membuat konflik menjadi panjang, melelahkan, dan sulit dimenangkan secara cepat oleh lawan-lawannya. Amerika dan Israel sering kali merespons dengan tekanan militer terbatas dan sanksi ekonomi. Namun, strategi ini tidak selalu menghasilkan hasil yang diinginkan. Iran tetap bertahan, bahkan dalam kondisi tekanan yang berat. Di sinilah muncul persepsi bahwa Iran “tidak bisa ditundukkan”.

Persepsi inilah yang kemudian berkembang menjadi narasi kemenangan. Dalam politik global, persepsi sering kali sama pentingnya dengan fakta. Ketika sebuah negara mampu bertahan dari tekanan super power, ia akan dianggap sebagai pemenang oleh sebagian kalangan. Namun, realitas di dalam Iran sendiri tidak selalu sekuat narasi yang dibangun. Tekanan ekonomi, inflasi, dan dinamika sosial menjadi tantangan serius. Ini menunjukkan bahwa “perlawanan” memiliki biaya yang tidak kecil bagi masyarakat.

Israel sendiri tidak bisa dianggap lemah. Negara ini memiliki sistem pertahanan yang sangat maju dan dukungan kuat dari Barat. Setiap langkah Iran selalu diperhitungkan dengan cermat oleh Israel, sehingga konflik tidak berkembang menjadi perang terbuka besar. Amerika Serikat juga tetap memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan kekuatan di kawasan. Meskipun tidak selalu melakukan intervensi langsung, kehadirannya tetap menjadi faktor penentu dalam banyak konflik.

Yang sebenarnya terjadi adalah situasi “deadlock” geopolitik. Tidak ada pihak yang benar-benar menang, tetapi juga tidak ada yang benar-benar kalah. Semua pihak berada dalam posisi saling menahan. Dalam kondisi seperti ini, narasi menjadi senjata penting. Iran berhasil membangun citra sebagai simbol perlawanan terhadap dominasi global. Ini memberikan keuntungan politik dan ideologis, terutama di kalangan tertentu.

Namun, narasi tidak boleh menggantikan realitas. Menganggap Amerika dan Israel “lempar handuk” bisa menyesatkan jika tidak disertai analisis yang objektif. Kekuatan mereka masih sangat besar dan berpengaruh. Yang lebih tepat adalah melihat adanya perubahan dalam pola konflik. Dominasi tunggal mulai bergeser menjadi kompetisi yang lebih seimbang. Negara seperti Iran mampu bertahan dan bahkan memperluas pengaruhnya tanpa harus menang secara konvensional.

Fenomena ini menunjukkan bahwa kekuatan global tidak lagi bersifat absolut. Bahkan super power sekalipun memiliki keterbatasan dalam menghadapi konflik yang kompleks dan berkepanjangan. Pada akhirnya, ungkapan “rawe-rawe rantas” lebih tepat dimaknai sebagai simbol keberanian dan resistensi, bukan bukti kemenangan mutlak. Dunia tidak sedang menyaksikan kekalahan total Amerika dan Israel, tetapi sedang melihat perubahan lanskap kekuasaan global yang semakin dinamis.

Jika ditarik lebih jauh, keberhasilan Iran dalam mempertahankan eksistensinya juga tidak lepas dari kemampuannya membaca celah dalam sistem internasional. Iran memanfaatkan rivalitas antar kekuatan besar seperti Amerika, Rusia, dan China untuk menjaga ruang geraknya tetap terbuka. Ini menunjukkan bahwa kecerdasan geopolitik menjadi faktor penting dalam bertahan di tengah tekanan global.

Selain itu, Iran juga mengembangkan strategi kemandirian dalam berbagai sektor strategis. Dalam kondisi sanksi yang ketat, Iran dipaksa untuk membangun kapasitas domestik, termasuk dalam bidang militer dan teknologi. Meski tidak sepenuhnya mandiri, langkah ini memberikan daya tahan yang lebih kuat dibandingkan negara yang terlalu bergantung pada sistem global.

Di sisi lain, Amerika Serikat menghadapi tantangan internal yang tidak kecil. Polarisasi politik, tekanan ekonomi domestik, dan perubahan prioritas global membuat fokus kebijakan luar negerinya tidak selalu konsisten. Kondisi ini turut mempengaruhi efektivitas strategi terhadap Iran. Israel pun berada dalam situasi yang tidak sederhana. Meskipun unggul secara militer, Israel harus menghadapi ancaman dari berbagai arah, termasuk kelompok-kelompok yang didukung Iran. Hal ini menciptakan tekanan keamanan yang terus-menerus dan membutuhkan sumber daya besar untuk mengelolanya.

Dalam konteks ini, konflik antara Iran dengan Amerika dan Israel tidak bisa dilihat sebagai konflik konvensional. Ini adalah konflik berlapis yang melibatkan aspek militer, ekonomi, politik, dan ideologi sekaligus. Oleh karena itu, ukuran kemenangan dan kekalahan menjadi sangat relatif.

Narasi “lempar handuk” sebenarnya lebih mencerminkan kelelahan dalam menghadapi konflik yang tidak kunjung selesai. Amerika dan Israel mungkin tidak menyerah, tetapi mereka juga tidak mampu menyelesaikan konflik ini secara tuntas. Ini menciptakan persepsi stagnasi yang sering ditafsirkan sebagai kelemahan.

Iran memanfaatkan kondisi ini untuk memperkuat posisi tawarnya. Dengan tetap bertahan dan menunjukkan konsistensi, Iran mampu membangun citra sebagai kekuatan yang tidak mudah dikalahkan. Ini memberikan pengaruh psikologis yang cukup besar dalam dinamika geopolitik kawasan. Namun, penting untuk diingat bahwa keberhasilan bertahan bukan berarti bebas dari risiko. 

Ketegangan yang terus berlangsung berpotensi memicu eskalasi yang lebih besar di masa depan. Dalam situasi seperti ini, satu kesalahan kecil bisa berujung pada konflik terbuka yang jauh lebih destruktif. Oleh karena itu, semua pihak sebenarnya berada dalam posisi yang sama-sama rentan. Tidak ada aktor yang benar-benar aman dalam konflik berkepanjangan seperti ini. 

Stabilitas kawasan bergantung pada kemampuan masing-masing pihak untuk menahan diri dan mengelola konflik secara hati-hati. Pada akhirnya, narasi besar tentang kemenangan atau kekalahan perlu ditempatkan secara proporsional. Dunia tidak sedang menyaksikan sebuah akhir dari dominasi, melainkan proses panjang perubahan keseimbangan kekuatan. Iran, Amerika, dan Israel semuanya sedang beradaptasi dalam lanskap baru yang lebih kompleks dan tidak pasti.

Penulis: Dr. Muhammad Uhaib As'ad, M.Si (Akademisi, Direktur Kajian Ekonomi Politik dan Kebijakan Publik Kalimantan Selatan, President International Institute of Influencers Indonesia)
Lebih baru Lebih lama



HUT GUB KALSEL
Iklan

نموذج الاتصال