Dalam beberapa dekade terakhir, dunia menyaksikan kontras yang tajam antara kemajuan pesat negara-negara Asia Timur seperti Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok, dengan stagnasi relatif di banyak negara Muslim, termasuk Indonesia. Fenomena ini memunculkan pertanyaan mendasar tentang faktor-faktor yang menentukan keberhasilan pembangunan suatu bangsa. Para ahli menekankan bahwa kemajuan tidak hanya ditentukan oleh sumber daya alam, tetapi oleh kualitas institusi dan tata kelola negara (Acemoglu & Robinson, 2012). Dalam konteks ini, ketertinggalan dunia Islam menjadi isu struktural yang perlu dikaji secara mendalam.
Asia Timur berhasil membangun fondasi pembangunan melalui disiplin kolektif, etos kerja tinggi, dan orientasi jangka panjang. Jepang mampu bangkit dari kehancuran pasca-Perang Dunia II menjadi kekuatan ekonomi global melalui perencanaan industri yang sistematis (Johnson, 1982). Korea Selatan juga menunjukkan transformasi luar biasa melalui strategi industrialisasi yang terarah dan berbasis ekspor (Amsden, 1989). Hal ini menegaskan pentingnya peran negara dalam mengarahkan pembangunan.
Sebaliknya, banyak negara di dunia Islam masih menghadapi persoalan struktural seperti korupsi, lemahnya institusi, dan konflik politik berkepanjangan. Indonesia sendiri masih berupaya memperkuat tata kelola pemerintahan agar lebih efektif. Kelemahan institusi ini berdampak langsung pada rendahnya efektivitas pembangunan (Fukuyama, 2011). Akibatnya, potensi besar yang dimiliki belum sepenuhnya termanfaatkan.
Faktor pendidikan menjadi pembeda yang sangat signifikan. Negara-negara Asia Timur menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama dengan sistem yang kompetitif dan berbasis meritokrasi. Sebaliknya, banyak negara Muslim masih menghadapi tantangan kualitas pendidikan yang belum merata dan kurang relevan dengan kebutuhan zaman (UNDP, 2022). Hal ini berdampak pada rendahnya daya saing sumber daya manusia.
Budaya kerja juga menjadi variabel penting dalam menjelaskan kesenjangan ini. Asia Timur dikenal dengan etos kerja tinggi, disiplin, dan orientasi pada kualitas. Nilai-nilai ini memperkuat produktivitas nasional secara konsisten. Sementara itu, beberapa negara berkembang masih menghadapi tantangan dalam membangun budaya kerja yang kuat dan berkelanjutan (Landes, 1998). Perbedaan ini berkontribusi pada kesenjangan kinerja ekonomi.
Dalam aspek politik, stabilitas dan kesinambungan kebijakan menjadi faktor kunci keberhasilan Asia Timur. Kebijakan pembangunan dijalankan secara konsisten dalam jangka panjang. Sebaliknya, dinamika politik di banyak negara Muslim sering mengganggu kontinuitas kebijakan (Rodrik, 2011). Hal ini menghambat proses pembangunan yang berkelanjutan.
Asia Timur juga berhasil memanfaatkan globalisasi sebagai peluang untuk memperkuat ekonomi domestik. Mereka mengembangkan industri manufaktur dan teknologi yang berdaya saing tinggi. Sebaliknya, banyak negara Muslim masih bergantung pada ekspor komoditas mentah (World Bank, 2020). Ketergantungan ini membuat ekonomi rentan terhadap fluktuasi global.
Secara historis, dunia Islam pernah menjadi pusat peradaban dan ilmu pengetahuan. Namun, kejayaan tersebut tidak berlanjut hingga era modern. Terjadi stagnasi dalam pengembangan ilmu dan inovasi. Beberapa analis melihat adanya faktor kultural dan politik yang mempengaruhi dinamika ini (Huntington, 1996). Akibatnya, dunia Islam tertinggal dalam ekonomi berbasis pengetahuan.
Ketimpangan dalam sistem ekonomi global juga turut memperparah kondisi ini. Negara-negara maju cenderung mendominasi sistem ekonomi dunia, sementara negara berkembang berada pada posisi yang kurang menguntungkan (Stiglitz, 2012). Hal ini membatasi ruang gerak negara-negara Muslim untuk berkembang lebih cepat.
Pada akhirnya, ketertinggalan Indonesia dan dunia Islam merupakan hasil dari berbagai faktor yang saling terkait. Sementara itu, keberhasilan Asia Timur menunjukkan bahwa transformasi besar dapat dicapai melalui penguatan institusi, pendidikan, dan strategi pembangunan yang konsisten (Acemoglu & Robinson, 2012). Oleh karena itu, diperlukan reformasi menyeluruh untuk mengejar ketertinggalan tersebut.
Penulis: Dr. Muhammad Uhaib As'ad, M.Si (Akademisi, Direktur Kajian Ekonomi Politik dan Kebijakan Publik Kalimantan Selatan, President International Institute of Influencers Indonesia)
REFERENSI
Acemoglu, D., & Robinson, J. A. (2012). Why Nations Fail: The Origins of Power, Prosperity, and Poverty. Crown Business.
Amsden, A. H. (1989). Asia’s Next Giant: South Korea and Late Industrialization. Oxford University Press.
Fukuyama, F. (2011). The Origins of Political Order. Farrar, Straus and Giroux.
Huntington, S. P. (1996). The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order. Simon & Schuster.
Johnson, C. (1982). MITI and the Japanese Miracle. Stanford University Press.
Landes, D. S. (1998). The Wealth and Poverty of Nations. W. W. Norton & Company.
Rodrik, D. (2011). The Globalization Paradox. W. W. Norton & Company.
Stiglitz, J. E. (2012). The Price of Inequality. W. W. Norton & Company.
UNDP. (2022). Human Development Report. https://www.undp.org
World Bank. (2020). World Development Report. https://www.worldbank.org

