Istilah “kacung” dalam konteks geopolitik sebenarnya merupakan ekspresi emosional yang lahir dari kekecewaan terhadap sikap negara-negara Arab. Dalam analisis hubungan internasional, fenomena ini lebih tepat dipahami sebagai hubungan patron-klien. Amerika Serikat memainkan peran sebagai patron, sementara beberapa negara Arab menjadi mitra strategisnya. Relasi ini dibangun atas dasar kepentingan keamanan dan stabilitas rezim. Persepsi publik kemudian menyederhanakannya menjadi ketundukan politik. Padahal realitasnya jauh lebih kompleks (Mearsheimer, 2001).
Saudi Arabia memiliki hubungan historis yang kuat dengan Amerika Serikat sejak perjanjian minyak dan keamanan abad ke-20. Pertukaran antara jaminan keamanan dan akses energi menjadi fondasi utama relasi ini. Dalam konteks ini, kebijakan luar negeri Saudi sering selaras dengan kepentingan Washington. Namun, keselarasan ini lebih bersifat pragmatis daripada ideologis. Stabilitas domestik menjadi prioritas utama kerajaan. Inilah yang sering ditafsirkan sebagai ketergantungan (Council on Foreign Relations, 2023).
Negara-negara Teluk lainnya seperti UEA dan Bahrain juga mengembangkan hubungan erat dengan Amerika Serikat. Mereka melihat aliansi ini sebagai perlindungan terhadap ancaman regional. Salah satu ancaman utama yang mereka identifikasi adalah Iran. Persepsi ancaman ini diperkuat oleh rivalitas sektarian dan geopolitik. Dalam konteks ini, kedekatan dengan AS bukan sekadar pilihan, tetapi kebutuhan strategis. Hal ini membentuk blok kekuatan regional tertentu (International Crisis Group, 2023).
Normalisasi hubungan beberapa negara Arab dengan Israel melalui Abraham Accords menjadi titik balik penting. Langkah ini dipandang sebagai bentuk kompromi geopolitik untuk kepentingan ekonomi dan keamanan. Namun, di mata publik, kebijakan ini dianggap sebagai pengkhianatan terhadap Palestina. Di sinilah muncul narasi bahwa negara Arab tunduk pada tekanan AS dan Israel. Padahal, ada kalkulasi strategis yang mendasarinya. Realitas politik sering kali tidak sejalan dengan idealisme (BBC News, 2024).
Iran, di sisi lain, memposisikan diri sebagai oposisi terhadap hegemoni Amerika dan Israel. Sejak Revolusi 1979, Iran mengusung narasi perlawanan terhadap dominasi Barat. Hal ini membuatnya menjadi aktor yang berbeda dibanding negara Arab lainnya. Iran membangun pengaruh melalui jaringan aliansi non-negara di kawasan. Strategi ini memperkuat posisinya sekaligus meningkatkan ketegangan. Akibatnya, Iran dianggap ancaman bersama oleh beberapa negara Arab (Al Jazeera, 2023).
Rivalitas antara Iran dan Saudi Arabia tidak hanya bersifat geopolitik, tetapi juga ideologis. Perbedaan Sunni–Syiah sering dijadikan faktor pembeda utama. Namun, konflik ini sebenarnya lebih didorong oleh perebutan pengaruh regional. Kedua negara berusaha menjadi kekuatan dominan di Timur Tengah. Persaingan ini kemudian melibatkan aktor global seperti Amerika Serikat. Kompleksitas ini memperdalam konflik yang ada (SIPRI, 2024).
Amerika Serikat memiliki kepentingan besar dalam menjaga stabilitas Timur Tengah, terutama terkait energi. Kawasan ini merupakan pusat produksi minyak dunia. Oleh karena itu, AS berusaha mempertahankan aliansi dengan negara-negara kunci. Saudi Arabia menjadi mitra utama dalam strategi ini. Kebijakan ini sering dipandang sebagai bentuk dominasi ekonomi dan politik. Namun, dari perspektif AS, ini adalah kepentingan nasional (EIA, 2023).
Israel juga memainkan peran penting dalam konfigurasi geopolitik kawasan. Sebagai sekutu utama AS, Israel menjadi bagian dari strategi keamanan regional. Hubungan ini sering dikritik karena dianggap tidak adil terhadap Palestina. Negara-negara Arab berada dalam posisi dilematis. Mereka harus menyeimbangkan antara solidaritas regional dan kepentingan nasional. Inilah yang memicu persepsi negatif dari publik (BBC News, 2024).
Narasi bahwa negara Arab menjadi “kacung” sebenarnya mencerminkan krisis legitimasi politik di kawasan. Banyak masyarakat merasa pemerintah mereka tidak merepresentasikan aspirasi publik. Kebijakan luar negeri sering dianggap elitis dan tidak transparan. Hal ini memperkuat ketidakpercayaan terhadap elite politik. Iran kemudian memanfaatkan situasi ini untuk membangun citra sebagai alternatif. Ini menjadi bagian dari perang narasi (International Crisis Group, 2023).
Di sisi lain, negara-negara Arab juga menghadapi ancaman internal seperti instabilitas politik dan ekonomi. Oleh karena itu, mereka cenderung memilih aliansi yang dapat menjamin keamanan. Amerika Serikat menawarkan jaminan tersebut melalui kerja sama militer. Dalam konteks ini, keputusan mereka lebih bersifat defensif. Namun, persepsi publik sering kali berbeda. Inilah gap antara kebijakan dan opini (Council on Foreign Relations, 2023).
Iran menjadi musuh bersama bukan hanya karena ideologi, tetapi juga karena strategi regionalnya. Dukungan Iran terhadap kelompok seperti Hizbullah dan Houthi meningkatkan kekhawatiran negara Arab. Aktivitas ini dianggap mengganggu stabilitas kawasan. Oleh karena itu, muncul konsensus tidak formal untuk membendung pengaruh Iran. Ini memperkuat aliansi dengan Amerika Serikat. Dinamika ini terus berkembang (Al Jazeera, 2023).
Media juga berperan dalam membentuk persepsi konflik ini. Narasi yang berkembang sering kali tidak netral. Ada framing tertentu yang menguntungkan pihak tertentu. Hal ini memperkuat stereotip dan polarisasi. Publik akhirnya melihat konflik secara hitam-putih. Padahal realitasnya jauh lebih kompleks. Analisis kritis menjadi sangat penting (BBC News, 2024).
Dalam konteks global, fenomena ini menunjukkan pergeseran menuju sistem multipolar. Amerika Serikat tidak lagi menjadi satu-satunya kekuatan dominan. China dan Rusia mulai memainkan peran lebih besar. Negara-negara Arab juga mulai melakukan diversifikasi aliansi. Namun, hubungan dengan AS tetap menjadi faktor utama. Transisi ini masih berlangsung (Mearsheimer, 2001).
Label “kacung” sebenarnya tidak membantu memahami dinamika geopolitik secara objektif. Istilah ini lebih bersifat retoris daripada analitis. Dalam realitasnya, negara bertindak berdasarkan kepentingan nasional. Saudi Arabia dan negara Arab lainnya membuat keputusan strategis yang kompleks. Tidak semua dapat disederhanakan sebagai ketundukan. Penting untuk melihat konteks yang lebih luas (Walt, 1987).
Pada akhirnya, konflik antara blok Arab, Amerika, Israel, dan Iran mencerminkan pertarungan kepentingan global. Tidak ada aktor yang sepenuhnya benar atau salah. Semua pihak memiliki kepentingan masing-masing. Dunia internasional berada dalam kondisi yang penuh ketidakpastian. Oleh karena itu, pendekatan yang lebih rasional dan seimbang sangat diperlukan. Narasi ekstrem justru memperkeruh keadaan (Council on Foreign Relations, 2023).
Penulis: Dr. Muhammad Uhaib As'ad, M.Si (Akademisi, Direktur Kajian Ekonomi Politik dan Kebijakan Publik Kalimantan Selatan, President International Institute of Influencers Indonesia)
REFERENSI
Mearsheimer, John J. (2001). The Tragedy of Great Power Politics
Walt, Stephen M. (1987). The Origins of Alliances
Council on Foreign Relations (2023). U.S. Relations with Saudi Arabia
International Crisis Group (2023). Middle East Security Dynamics
SIPRI (2024). Military Balance & Regional Security
BBC News (2024). Analisis Timur Tengah & Abraham Accords
Al Jazeera (2023). Geopolitik Iran vs Arab
U.S. Energy Information Administration / EIA (2023). Global Oil & Strait of Hormuz

