Narasi tentang “Iran semakin brutal” tidak bisa dilepaskan dari dinamika konflik berkepanjangan di Timur Tengah yang sarat kepentingan geopolitik. Label brutal sering kali menjadi konstruksi politik yang diproduksi dalam perang informasi untuk mendeligitimasi aktor tertentu. Dalam konteks ini, Iran diposisikan sebagai ancaman utama terhadap stabilitas kawasan oleh Amerika Serikat dan Israel. Namun, di balik narasi tersebut, terdapat pertarungan kepentingan yang jauh lebih kompleks. Persepsi brutalitas kerap kali bersifat subjektif dan bergantung pada sudut pandang kekuatan global. Oleh karena itu, penting untuk membedah narasi ini secara kritis (International Crisis Group).
Amerika Serikat selama ini memainkan peran sebagai patron utama dalam arsitektur keamanan Timur Tengah. Dukungan militernya terhadap Israel menjadi bagian dari strategi mempertahankan dominasi regional. Namun, patronase ini juga memunculkan kritik terkait standar ganda dalam isu kemanusiaan dan demokrasi. Ketika sekutu melakukan tindakan militer, respons internasional sering kali lebih lunak dibandingkan terhadap musuh geopolitik. Hal ini memunculkan persepsi runtuhnya moralitas dalam kebijakan luar negeri AS. Kondisi ini memperkuat narasi tandingan dari negara seperti Iran (Mearsheimer, 2001).
Israel sebagai sekutu utama Amerika Serikat di kawasan memiliki posisi strategis sekaligus kontroversial. Kebijakan militernya terhadap Palestina sering menjadi sorotan dunia internasional. Dalam banyak kasus, dukungan tanpa syarat dari AS dianggap mengabaikan prinsip-prinsip hak asasi manusia. Situasi ini memperdalam ketidakpercayaan terhadap tatanan internasional yang dianggap bias. Iran kemudian memanfaatkan celah ini untuk membangun legitimasi sebagai aktor perlawanan. Narasi ini berkembang kuat di kalangan Global South (BBC News).
Iran sendiri bukan tanpa kritik, terutama terkait aktivitas militernya melalui jaringan proksi di berbagai negara seperti Lebanon, Suriah, dan Yaman. Strategi ini sering dipandang sebagai bentuk ekspansi pengaruh yang agresif. Namun, dari sudut pandang Iran, langkah tersebut merupakan bagian dari strategi defensif terhadap tekanan eksternal. Ini menunjukkan bahwa konsep “brutalitas” tidak selalu berdiri sendiri, melainkan lahir dari interaksi konflik yang kompleks. Persepsi publik global menjadi medan pertempuran tersendiri. Di sinilah perang narasi memainkan peran penting (Al Jazeera).
Runtuhnya moralitas patronase geopolitik dapat dilihat dari inkonsistensi kebijakan luar negeri negara-negara besar. Amerika Serikat sering mengusung demokrasi dan HAM, tetapi praktiknya tidak selalu sejalan dengan prinsip tersebut. Dukungan terhadap rezim tertentu yang otoriter menjadi bukti pragmatisme politik. Hal ini memunculkan krisis legitimasi dalam kepemimpinan global AS. Iran kemudian tampil sebagai alternatif narasi, meskipun tidak sepenuhnya bebas dari kritik. Kondisi ini menciptakan polarisasi tajam dalam sistem internasional (Council on Foreign Relations).
Di tingkat regional, eskalasi konflik antara Iran dan Israel memperburuk stabilitas Timur Tengah. Serangan balasan, operasi rahasia, dan perang proksi menjadi bagian dari dinamika yang terus berlangsung. Dalam situasi ini, masyarakat sipil sering menjadi korban utama. Narasi brutalitas semakin menguat karena dampak kemanusiaan yang luas. Namun, akar masalahnya tetap pada rivalitas kekuasaan yang belum terselesaikan. Ini menunjukkan bahwa konflik tidak bisa disederhanakan menjadi hitam-putih (SIPRI).
Konsep patronase geopolitik sendiri mengacu pada hubungan ketergantungan antara negara besar dan sekutunya. Dalam konteks Amerika–Israel, hubungan ini bersifat strategis dan ideologis. Namun, ketika patron dianggap kehilangan legitimasi moral, hubungan tersebut ikut terdampak. Kritik internasional terhadap kebijakan Israel menjadi indikator penting. Iran kemudian memanfaatkan situasi ini untuk memperkuat posisinya. Ini menjadi bagian dari kompetisi pengaruh di kawasan (Walt, International Security).
Media global memainkan peran signifikan dalam membentuk persepsi tentang konflik ini. Pemberitaan yang tidak seimbang dapat memperkuat stereotip tertentu. Iran sering digambarkan sebagai agresor, sementara tindakan pihak lain kurang mendapat sorotan yang sama. Hal ini memperkuat narasi tentang bias dalam sistem informasi global. Publik internasional menjadi semakin terpolarisasi dalam melihat konflik. Akibatnya, solusi damai semakin sulit dicapai (Al Jazeera).
Selain itu, faktor energi juga menjadi dimensi penting dalam konflik ini. Timur Tengah sebagai pusat cadangan minyak dunia memiliki nilai strategis tinggi. Setiap eskalasi konflik berdampak langsung pada pasar global. Iran, dengan posisinya di Selat Hormuz, memiliki leverage besar dalam dinamika ini. Amerika Serikat berkepentingan menjaga stabilitas jalur energi tersebut. Inilah yang membuat konflik semakin kompleks dan multidimensional (U.S. Energy Information Administration).
Dalam perspektif hukum internasional, konflik ini menunjukkan keterbatasan sistem global dalam menegakkan keadilan. Banyak pelanggaran yang tidak mendapatkan sanksi setimpal. Hal ini memperkuat persepsi bahwa hukum internasional bersifat selektif. Negara-negara besar sering kali memiliki kekebalan politik. Iran kemudian menggunakan narasi ini untuk menantang legitimasi tatanan global. Ini menjadi bagian dari strategi diplomasi ideologisnya (Council on Foreign Relations).
Munculnya narasi “Iran semakin brutal” juga harus dilihat sebagai bagian dari strategi delegitimasi. Dalam konflik geopolitik, citra sangat penting untuk memenangkan dukungan internasional. Label negatif dapat mempengaruhi opini publik dan kebijakan global. Namun, narasi ini tidak selalu mencerminkan realitas secara utuh. Ada kepentingan politik yang bermain di baliknya. Oleh karena itu, analisis kritis menjadi sangat penting (International Crisis Group).
Di sisi lain, Iran juga активно membangun citra sebagai simbol perlawanan terhadap dominasi Barat. Narasi ini mendapat dukungan di berbagai negara berkembang. Ketidakpuasan terhadap sistem global menjadi faktor pendorong utama. Namun, keberhasilan narasi ini sangat bergantung pada konsistensi tindakan Iran sendiri. Jika tindakan dianggap kontradiktif, legitimasi tersebut bisa runtuh. Ini menjadi tantangan besar bagi Iran (Al Jazeera).
Runtuhnya moralitas patronase juga berdampak pada perubahan aliansi global. Negara-negara mulai mencari alternatif di luar dominasi Barat. Kemunculan kekuatan seperti China dan Rusia mempercepat proses ini. Iran dapat menjadi bagian dari poros baru tersebut. Namun, dinamika ini masih sangat cair dan penuh ketidakpastian. Sistem internasional sedang berada dalam fase transisi (Mearsheimer, 2001).
Dalam jangka panjang, konflik ini berpotensi menciptakan ketidakstabilan yang berkepanjangan. Tidak ada pihak yang benar-benar diuntungkan dari perang terbuka. Kerugian ekonomi, sosial, dan politik akan dirasakan secara global. Oleh karena itu, penting untuk mendorong pendekatan diplomasi daripada konfrontasi. Namun, realitas politik sering kali berjalan sebaliknya. Kepentingan jangka pendek lebih dominan (SIPRI).
Pada akhirnya, narasi tentang brutalitas dan runtuhnya moralitas geopolitik mencerminkan krisis yang lebih dalam dalam sistem internasional. Ini bukan hanya tentang Iran, Amerika, atau Israel, tetapi tentang bagaimana kekuasaan dijalankan di tingkat global. Ketika standar moral menjadi relatif, kepercayaan terhadap sistem akan terus menurun. Dunia kemudian memasuki era ketidakpastian baru. Di sinilah pentingnya membangun tatanan yang lebih adil dan inklusif (Council on Foreign Relations).
Penulis: Dr. Muhammad Uhaib As'ad, M.Si (Akademisi, Direktur Kajian Ekonomi Politik dan Kebijakan Publik Kalimantan Selatan, President International Institute of Influencers Indonesia)
REFERENSI :
Mearsheimer, John J. (2001). The Tragedy of Great Power Politics.
Walt, Stephen M. (1987). The Origins of Alliances.
International Crisis Group. (2023). Iran’s Regional Strategy and Middle East Tensions.
Council on Foreign Relations. (2023). U.S. Policy in the Middle East.
SIPRI. (2024). Military Expenditure and Arms Transfers Database.
BBC News. (2024). Analisis konflik Israel–Palestina dan Iran.
Al Jazeera. (2023). Liputan geopolitik Timur Tengah.
U.S. Energy Information Administration (EIA). (2023). Strait of Hormuz and Global Oil Flow.

