Miris, Guru Honorer di Pelosok Tanah Bumbu Belum Terima Honor 3 Bulan


Dua ruangan kelas itu berdinding batako tanpa diplester. Bangunan SD 2 Tamunih Kelas Filial, ini tampil ala kadarnya. Dibuka sejak tahun 2021, bangunan sekolah tanpa dilengkapi toilet, kantin, tiang bendera dan sarana penunjang olahraga.

Lokasinya terpencil, berjarak sekitar satu kilometer dari jalan provinsi penghubung Batulicin – Banjarbaru, di Desa Tamunih, Kecamatan Teluk Kepayang, Kabupaten Tanah Bumbu. SD ini memang dikhususkan menampung anak-anak di pelosok Desa Tamunih.

“Mudah-mudahan ada perhatian dari pemerintah. Tapi bukan sekolahnya saja, guru-gurunya mohon diperhatikan. Jangan MBG saja dinaikkan,” ujar Agustina, 42 tahun, salah satu guru honorer di sekolah itu ketika ditemui Banjarhits.co, pada Selasa (3/3/2026).

Agustina telah mengabdi di SD 2 Tamunih Kelas Filial sejak Januari 2025. Sebelumnya, Agustina berdinas di SDN 2 Tamunih, sekolah induk dari SD 2 Tamunih Kelas Filial.

Agustina sudah satu tahun terakhir menerima honor Rp2,9 juta per bulan. Sebelum itu, ia cuma mengantongi honor Rp600 ribu per bulan. Untuk menambah penghasilan, Agustina dan suaminya membuka toko minuman dan makanan ringan di rumah dinas guru di kampung setempat. Meskipun bersyukur, Agustina merasa honor Rp2,9 juta per bulan sejatinya belum cukup menutupi kebutuhan hidup. Apalagi suaminya tidak bekerja.

“Sejak bulan Januari (belum digaji). Saya tidak mengurus masalah gaji, teman saya yang mengurusnya. Saya tanya teman saya, katanya masih ada apa gitu. Kendalanya kurang tahu,” kata Agustina.

Dua guru honorer lainnya menetap di rumah pribadi, yang berada di Desa Tamunih dan Teluk Kepayang. Toh, mereka tetap telaten mengajar di tengah keterbatasan infrastruktur pendidikan. Lantaran cuma dua ruang kelas, tiga guru tersebut harus mengatur siasat cara pembelajaran efektif di ruang kelas.

Satu ruangan misalnya, diisi siswa dua kelas dan tiga kelas sekaligus. Adapun peserta didik sebanyak 52 anak dari kelas 1 sampai 5. Alhasil, guru mesti membagi satu papan tulis untuk materi pembelajaran dua kelas sekaligus. Selain itu, meja belajar bikin sendiri. Peserta didik pun tidak dibekali buku-buku pelajaran untuk belajar di rumah.

Dalam waktu dekat, ia sudah mendengar proses belajar mengajar SD 2 Tamunih kelas Filial akan dipindah ke bangunan baru yang masih tahap pembangunan fisik sekolah.  

Masalah belum berhenti di level pendidikan dasar. Setelah lulus SD pun, belum ada SMP dan SMA/Sederajat yang mudah dijangkau di Desa Tamunih. Padahal setelah lulus, kata Agustina, banyak anak-anak SD 2 Tamunih kelas Filial yang berminat melanjutkan ke jenjang SMP.

“Anak-anaknya padahal ingin meneruskan ke SMP, tapi terkendala jauhnya akses ke sekolah. Mau kemana meneruskannya? Mau ke kota jauh, sedangkan masalah ekonomi mereka (orang tua) pekerjaannya serabutan,” tuturnya.

Simak video selengkapnya di YouTube Banjarhitsdotco
Lebih baru Lebih lama



HUT GUB KALSEL
Iklan

نموذج الاتصال