Isu Palestina selalu menjadi luka terbuka dalam politik global, khususnya di dunia Islam. Namun, sikap negara-negara Arab terhadap perjuangan Palestina sering kali terlihat ambigu dan tidak konsisten.Di satu sisi, negara-negara Arab secara retoris menyatakan dukungan penuh terhadap kemerdekaan Palestina. Tetapi di sisi lain, langkah konkret yang diambil sering kali terbatas dan penuh kompromi.
Saudi Arabia sebagai kekuatan utama di dunia Arab memainkan peran penting dalam menentukan arah kebijakan regional. Namun, posisinya terhadap Palestina cenderung berhati-hati. Sikap ini tidak bisa dilepaskan dari kepentingan geopolitik yang lebih luas. Saudi Arabia memiliki hubungan strategis dengan Amerika Serikat yang menjadi sekutu utama Israel.
Ketergantungan keamanan Saudi terhadap Amerika Serikat membuat ruang geraknya terbatas. Setiap kebijakan luar negeri harus mempertimbangkan stabilitas hubungan tersebut. Negara-negara Teluk lainnya seperti Uni Emirat Arab dan Bahrain bahkan telah menormalisasi hubungan dengan Israel melalui Abraham Accords. Ini menjadi titik balik dalam politik Timur Tengah.
Normalisasi tersebut menunjukkan bahwa kepentingan ekonomi dan keamanan sering kali lebih dominan dibanding solidaritas ideologis terhadap Palestina. Selain itu, ancaman Iran juga menjadi faktor penting. Banyak negara Arab melihat Iran sebagai musuh utama, bukan Israel.
Persepsi ini membuat fokus geopolitik bergeser. Palestina tidak lagi menjadi prioritas utama dalam agenda keamanan regional. Iran, di sisi lain, memposisikan dirinya sebagai pembela utama Palestina. Ini menjadi bagian dari strategi politik luar negerinya.
Dukungan Iran terhadap kelompok seperti Hamas dan Hezbollah memperkuat citra tersebut. Iran tampil sebagai aktor yang aktif, bukan sekadar simbolik.
Namun, dukungan Iran juga tidak sepenuhnya altruistik. Ada kepentingan ideologis dan strategis yang menyertainya. Iran menggunakan isu Palestina untuk memperluas pengaruhnya di dunia Islam, khususnya di kawasan Timur Tengah.
Rivalitas antara Iran dan Saudi Arabia turut membentuk dinamika ini. Palestina sering kali menjadi arena persaingan pengaruh. Negara-negara Arab Sunni cenderung curiga terhadap agenda Iran yang berbasis pada ideologi revolusioner.
Perbedaan mazhab juga turut memperkeruh situasi. Politik sektarian menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Selain itu, banyak rezim Arab menghadapi tekanan domestik. Stabilitas internal menjadi prioritas utama. Mendukung Palestina secara penuh bisa berisiko memicu konflik yang lebih luas atau tekanan ekonomi.
Oleh karena itu, pendekatan pragmatis lebih dipilih. Retorika dukungan tetap dijaga, tetapi aksi nyata dibatasi. Faktor ekonomi juga sangat berpengaruh. Negara-negara Teluk memiliki kepentingan besar dalam investasi global.
Hubungan dengan Barat menjadi kunci bagi keberlanjutan ekonomi mereka. Ini membuat mereka tidak bisa mengambil posisi konfrontatif. Sementara itu, Iran relatif lebih independen karena telah lama berada di bawah sanksi internasional. Kondisi ini justru membuat Iran lebih leluasa mengambil posisi keras terhadap Israel.
Namun, perlu dicatat bahwa Iran juga menghadapi keterbatasan ekonomi yang serius akibat sanksi. Dukungan terhadap Palestina sering kali lebih bersifat simbolik dan melalui proxy, bukan intervensi langsung. Dunia Arab juga mengalami fragmentasi politik. Tidak ada kesatuan sikap yang kuat seperti pada era sebelumnya. Liga Arab tidak lagi efektif sebagai alat konsolidasi politik kawasan.
Kepemimpinan regional juga mengalami krisis. Tidak ada figur yang mampu menyatukan agenda kolektif dunia Arab. Dalam konteks ini, Palestina menjadi isu yang terus dipolitisasi tanpa solusi nyata. Iran memanfaatkan kekosongan tersebut untuk membangun narasi sebagai pembela Palestina. Namun, narasi “single fighter” juga perlu dilihat secara kritis. Realitas di lapangan jauh lebih kompleks.
Dukungan terhadap Palestina seharusnya tidak dimonopoli oleh satu negara saja. Perjuangan Palestina membutuhkan solidaritas kolektif, bukan sekadar simbol politik. Dunia Islam secara keseluruhan menghadapi tantangan dalam membangun posisi yang konsisten dan efektif. Kepentingan nasional sering kali mengalahkan solidaritas umat.
Ini menjadi refleksi bahwa politik internasional tetap didominasi oleh realisme, bukan idealisme. Palestina akhirnya menjadi korban dari tarik-menarik kepentingan global dan regional. Tanpa perubahan paradigma, situasi ini akan terus berulang. Dukungan yang nyata membutuhkan keberanian politik, bukan hanya retorika. Dan sampai hari ini, keberanian itu masih menjadi barang langka di panggung politik dunia Arab.
Penulis: Dr. Muhammad Uhaib As'ad, M.Si (Akademisi, Direktur Kajian Ekonomi Politik dan Kebijakan Publik Kalimantan Selatan, President International Institute of Influencers Indonesia)

