Dampak Kemiskinan di Tanah Bumbu: 5 Anak Dalam Satu Rumah Tidak Sekolah

Satu keluarga asyik meriung di sebuah rumah panggung berdinding kayu ketika wartawan Banjarhits.co mendatangi mereka di Desa Tamunih, Kecamatan Teluk Kepayang, Kabupaten Tanah Bumbu, pada Selasa (3/3/2026). 

Di rumah tanpa perabotan itu, lima bocah berlarian, lalu sesekali mengintip dari balik jendela dan pintu.

Tingkah polah anak-anak dari keluarga komunitas Balai Adat Tamunih ini membuat penasaran. Sebab, mereka seharusnya sekolah karena Selasa bukan hari libur. 

“Semua ini tidak ada yang sekolah,” kata Aplin, saat ditanya nasib pendidikan lima anak tersebut.

Menurut Aplin, keterbatasan ekonomi keluarga dan akses sekolah yang jauh menyebabkan lima anak-anak itu tidak sekolah. “Yang tidak mampu, tidak sekolah. Biaya kurang, jaraknya jauh (ke sekolah). Lima kilometer tidak kurang,” lanjut Aplin.

Sekolah paling dekat dengan rumah mereka berada di SD 2 Tamunih (Filial). Anak-anak itu tidak pernah menerima bantuan untuk siswa miskin dari pemerintah daerah setempat. Namun, kata Aplin, keluarganya menerima bantuan langsung tunai (BLT) sebesar Rp900 ribu.

Ia berkata, masyarakat kebanyakan berladang dan sesekali menggali emas secara tradisional. Adapun penghasilannya tidak menentu. “Kerjaan bertani, menggali emas. Cari emas itu sehari, dua hari, berhenti. Jauh (lokasinya),” ujar Aplin.

Hija, saudara dari Aplin, menambahkan masyarakat menggantungkan pertanian padi. Selain itu, ada bertanam kencur dan jahe dengan penghasilan yang minim.

“Jika usaha ini lancar, lalu uang itu kan lancar. Masalah menyekolahkan anak itu nyaman saja. Tapi keadaannya seperti ini,” ujar Hija, sambil menunjuk jahe yang baru dipanen.

Guru di SD 2 Tamunih (Filial), Agustina, mengaku mayoritas anak-anak SD 2 Tamunih kelas Filial berminat melanjutkan ke jejang SMP. Setahu dia, belum ada bantuan untuk siswa miskin di sekolah tersebut.

“Anak-anaknya padahal ingin meneruskan ke SMP, tapi terkendala jauhnya akses ke sekolah. Mau kemana meneruskannya? Mau ke kota jauh, sedangkan masalah ekonomi mereka (orang tua) pekerjaannya serabutan,” kata guru honorer itu.

Agustina pun mengaku belum menerima pembayaran gaji selama tiga bulan, terhitung sejak Januari 2026. Ia seharusnya menerima gaji Rp2,9 juta per bulan. Besaran gaji ini ia terima sejak Januari 2025. Sebelum itu, ia mengantongi gaji Rp600 ribu per bulan.

Selain minimnya infrastruktur pendidikan, masyarakat setempat belum merasakan jaringan lstrik, dan internet.

Simak video selengkanya di YouTube Banjarhitsdotco

Lebih baru Lebih lama



HUT GUB KALSEL
Iklan

نموذج الاتصال