Agama pada hakikatnya tidak pernah dimaksudkan untuk tinggal terlalu lama di langit. Ia diturunkan atau dihadirkan ke bumi, ke ruang hidup manusia yang penuh konflik, ketimpangan, dan penderitaan. Namun, ketika agama justru terus dipermak di langit, dipoles dalam bahasa-bahasa suci yang steril dari realitas sosial, ia perlahan kehilangan relevansi profetiknya. Agama menjadi indah dalam wacana, tetapi tumpul dalam keberpihakan.
Fenomena ini terlihat ketika agama direduksi menjadi urusan simbol, ritus, dan identitas.
Kesalehan diukur dari seberapa fasih seseorang berbicara tentang Tuhan, bukan dari seberapa jauh ia membela manusia. Mimbar ramai oleh narasi surga dan ancaman neraka, tetapi sunyi dari jeritan buruh yang upahnya dipangkas, petani yang lahannya dirampas, atau nelayan yang hidupnya tergerus kebijakan. Agama pun hadir megah, namun terasa jauh.
Padahal, dalam sejarahnya, agama terutama melalui suara kenabian selalu hadir sebagai kritik sosial. Para nabi bukan sekadar penyampai pesan langit, melainkan pembongkar ketidakadilan bumi. Mereka menegur kekuasaan, mengganggu kenyamanan elite, dan memihak mereka yang dimarjinalkan. Ketika agama kehilangan keberanian ini, ia berubah dari kekuatan pembebas menjadi alat legitimasi.
Mempermak agama di langit sering kali beriringan dengan upaya menjinakkannya di bumi. Tafsir dipisahkan dari konteks sosial, ayat dilepaskan dari realitas historis, dan iman direduksi menjadi urusan personal semata. Akibatnya, agama mudah digunakan untuk membenarkan ketimpangan: kemiskinan dianggap takdir, ketidakadilan disebut ujian, dan kritik sosial dicurigai sebagai ancaman terhadap iman.
Di titik inilah agama kehilangan daya profetiknya. Ia tidak lagi menjadi suara moral yang mengoreksi kekuasaan, tetapi justru menjadi penenang yang meninabobokan kesadaran. Agama yang seharusnya membangkitkan keberanian, malah mengajarkan kepasrahan tanpa kritik. Kesalehan pun berubah menjadi kepatuhan yang hampa makna sosial.
How down to earth tidak berarti merendahkan agama, apalagi mengosongkan nilai transendennya. Justru sebaliknya, membumikan agama adalah cara menjaga martabatnya. Agama yang membumi adalah agama yang berani bersentuhan dengan kenyataan pahit, yang resah melihat ketimpangan, dan yang tidak nyaman berdampingan dengan ketidakadilan. Ia hadir bukan hanya di rumah ibadah, tetapi juga di ruang-ruang konflik sosial.
Jika agama ingin tetap relevan, ia harus berani turun dari langit simbolik menuju bumi realitas. Dari bahasa surga menuju bahasa keadilan. Dari kesalehan individual menuju tanggung jawab sosial. Sebab agama yang hanya indah di langit, tetapi absen di bumi, bukanlah agama profetik melainkan agama dekoratif.
Dan sejarah menunjukkan, agama yang kehilangan keberpihakan sosial cepat kehilangan makna. Ia mungkin tetap dipuja, tetapi pelan-pelan ditinggalkan. Karena pada akhirnya, manusia tidak hanya membutuhkan agama yang menjanjikan surga, tetapi juga agama yang hadir, membela, dan berjuang bersama mereka di bumi.
Penulis: Dr. Muhammad Uhaib As’ad, M.Si
(Akademisi, analis ekonomi politik dan kebijakan publik Kalimantan Selatan)

