Puskesmas Uren memperkuat pengawasan penggunaan obat di masyarakat melalui inovasi Bekal Akrobat (Berikan Label, Awasi Kedaluwarsa Obat). Inovasi pelayanan kefarmasian ini digagas tenaga kefarmasian Puskesmas Uren, Rahmi Safitri, dan telah berjalan sejak 22 Agustus 2022.
Bekal Akrobat dirancang untuk meningkatkan keamanan dan ketepatan penggunaan obat, khususnya di wilayah terpencil. Inovasi ini terus berkembang dan kini menjangkau masyarakat hingga tingkat desa.
Rahmi Safitri, pada Rabu (28/1/2026), menjelaskan pelayanan kefarmasian di apotek puskesmas menjadi garda terdepan dalam memastikan obat yang diterima pasien aman dan digunakan sesuai aturan. Namun, keterbatasan akses layanan kesehatan serta minimnya pemahaman masyarakat masih menjadi tantangan utama.
Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), sekitar 47 persen masyarakat terbiasa menyimpan sisa obat atau resep dokter yang tidak habis digunakan untuk konsumsi selanjutnya. Di wilayah kerja Puskesmas Uren yang tergolong terpencil, kondisi ini berpotensi lebih tinggi.
Di lapangan, petugas kerap menemukan masyarakat menggunakan kembali sisa sirup antibiotik, obat tetes mata, dan obat tetes telinga yang telah melewati batas aman penggunaan. Padahal, sirup antibiotik hanya aman dikonsumsi 7–14 hari setelah dilarutkan, sedangkan obat tetes mata dan telinga maksimal 28 hari setelah kemasan dibuka.
Penggunaan obat yang sudah tidak layak berisiko menimbulkan dampak serius, mulai dari resistensi antibiotik, reaksi alergi, keracunan obat, hingga kegagalan terapi.
Berangkat dari persoalan tersebut, Bekal Akrobat diterapkan sebagai solusi sederhana untuk membantu petugas dan pasien memantau masa kedaluwarsa serta aturan pakai obat. Pada tahap awal, inovasi ini diterapkan di Apotek Puskesmas Uren.
Seiring berjalannya waktu, inovasi ini diperluas ke kegiatan Posyandu. Pada 2024, Bekal Akrobat resmi diterapkan dalam Posyandu ILP (Integrasi Layanan Primer) di seluruh desa wilayah kerja Puskesmas Uren.
Pengembangan ini dinilai penting, terutama bagi lansia yang menjalani pengobatan rutin dan kerap mengalami kesulitan memahami aturan pakai obat, lupa jadwal minum obat, atau menggunakan obat yang telah kedaluwarsa.
Melalui penerapan Bekal Akrobat di Posyandu ILP, petugas kesehatan dapat memberikan edukasi langsung, melakukan pemantauan penggunaan obat, serta memastikan terapi tetap aman dan efektif. Inovasi ini mendapat respons positif dari masyarakat dan pemerintah desa.
Pada 2025, sasaran inovasi kembali diperluas kepada pasien dengan gangguan kejiwaan yang menjalani terapi jangka panjang. Pelaksanaan dilakukan melalui kegiatan ILP, koordinasi dengan keluarga dan kader kesehatan, serta kunjungan rumah bagi pasien yang tidak dapat hadir ke Posyandu.
Bekal Akrobat dinilai memiliki berbagai keunggulan. Petugas dapat dengan mudah mengecek masa kedaluwarsa obat melalui Kartu Akrobat tanpa bergantung pada jaringan internet. Selain itu, pengelolaan obat menjadi lebih efisien dan mampu menekan jumlah obat kedaluwarsa.
Bagi pasien, inovasi ini membantu meningkatkan kepatuhan minum obat serta mendorong keterlibatan keluarga dan masyarakat dalam mendukung keberhasilan terapi.
Melalui Bekal Akrobat, Puskesmas Uren memperkuat peran sebagai pusat edukasi dan pendampingan masyarakat dalam penggunaan obat yang aman, rasional, dan bertanggung jawab. (Didi Juaidinoor)

