Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Kota Banjarmasin mengandalkan strategi promosi langsung melalui pelaku wisata untuk menjaga eksistensi pariwisata di tengah dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Langkah ini dilakukan menyusul ditundanya sejumlah kegiatan seremonial sebagai bentuk penyesuaian terhadap kondisi karhutla.
Meski demikian, upaya promosi pariwisata tetap berjalan dengan mengoptimalkan potensi destinasi dan kegiatan yang masih dapat dilaksanakan.
Kepala Bidang Pariwisata Disbudporapar Kota Banjarmasin, Muhammad Afriansyah, mengatakan pihaknya mendorong keterlibatan pelaku wisata yang memahami kondisi di lapangan untuk mempromosikan destinasi secara langsung.
Pihaknya menggerakkan hotel-hotel yang tergabung dalam Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), pemandu wisata atau tour guide, hingga kelompok sadar wisata (Pokdarwis).
“Promosi bisa dilakukan langsung oleh orang-orang di lapangan. Misalnya, Pokdarwis Kubah Basirih bisa membuat promosi sesuai kondisi dan potensi yang mereka miliki. Begitu juga hotel-hotel dan tour guide. Namun, semuanya tetap berada di bawah koordinasi Bidang Pariwisata Kota Banjarmasin,” ujarnya.
Menurut Afriansyah, strategi tersebut menjadi alternatif agar promosi pariwisata tidak hanya bergantung pada penyelenggaraan kegiatan seremonial. Pelaku wisata diharapkan mampu menyampaikan informasi mengenai destinasi dan daya tarik lokal berdasarkan kondisi nyata di lapangan.
Ia menegaskan, meskipun sejumlah kegiatan seremonial dipending, aktivitas pariwisata masih bisa didorong melalui agenda lain yang memiliki daya tarik bagi masyarakat dan wisatawan.
Salah satunya adalah kegiatan Haul Habib Basirih yang akan segera dilaksanakan. Selain itu, tradisi Baayun Maulid juga dinilai memiliki potensi besar untuk menarik pengunjung karena tingginya minat masyarakat.
“Karena peminatnya banyak, kegiatan seperti ini bisa menjadi momentum untuk mempromosikan pariwisata kita. Jadi, meskipun event seremonial dipending, masih ada kegiatan lain yang bisa dimanfaatkan untuk menjaga pariwisata kita tetap hidup,” jelasnya.
Hunian Hotel Jadi Salah Satu Indikator
Di sisi lain, Disbudporapar Kota Banjarmasin turut menjadikan kondisi perhotelan sebagai salah satu indikator untuk melihat perkembangan kunjungan wisatawan.
Afriansyah mencontohkan, saat kegiatan Tanglong berlangsung, kondisi hotel dinilai belum menunjukkan tingkat kunjungan yang ramai. Hal tersebut menjadi salah satu bahan evaluasi pihaknya dalam melihat dampak situasi karhutla terhadap sektor pariwisata.
Ia juga menyebutkan, tiga perwakilan dewan dari provinsi tetangga sempat meminta undangan untuk menghadiri kegiatan terkait. Undangan tersebut telah diserahkan sebagai bagian dari upaya menarik kehadiran pengunjung dari luar daerah.
Selain itu, pelaksanaan Pasar Wadai beberapa waktu lalu turut menjadi salah satu bahan evaluasi untuk melihat perkembangan kunjungan wisatawan.
“Hotel menjadi salah satu tolak ukur kami. Dari kondisi yang kami lihat, tingkat kunjungan wisatawan mengalami penurunan di tengah karhutla ini,” katanya.
Menurutnya, dampak karhutla terhadap sektor pariwisata tidak hanya berkaitan dengan kabut asap yang berpotensi mengurangi kenyamanan masyarakat untuk beraktivitas di luar ruangan. Penundaan sejumlah kegiatan yang bersifat pariwisata juga turut memengaruhi daya tarik kunjungan ke Kota Banjarmasin.
Karena itu, Disbudporapar berupaya mengoptimalkan potensi destinasi, kegiatan budaya, dan agenda keagamaan yang tetap berlangsung sebagai sarana promosi alternatif.
Melalui pelibatan pelaku wisata secara langsung dan tetap berada di bawah koordinasi pemerintah daerah, promosi diharapkan terus berjalan sehingga potensi pariwisata Kota Banjarmasin tetap dikenal masyarakat luas di tengah kondisi karhutla. (Zahidi)

