Deras Hujan Buatan di Banjarbaru, Dishut Kalsel: Belum Turun di Hutan Lindung Liang Anggang

Operasi modifikasi cuaca (OMC) mulai menghasilkan hujan buatan di sebagian Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, pada Selasa siang, 8 September 2026. Pantauan di Jalan Sukamaju, Kelurahan Landasan Ulin Utara, Kecamatan Liang Anggang, hujan intensitas sedang itu cuma berdurasi 10 menit.

Menurut Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kalimantan Selatan, Muhammad Pormadi Dharma, OMC berhasil menurunkan hujan di wilayah Landasan Ulin Selatan, Kota Banjarbaru. “Di Banjarbaru sudah ada hujan di wilayah Landasan Ulin Selatan,” kata Pormadi, Selasa (8/9/2026).

Di tempat terpisah, Kepala Dinas Kehutanan Kalimantan Selatan, Fathimattuzahra, mengatakan hujan buatan belum turun di lahan kebakaran lahan dan hutan wilayah Hutan Lindung Liang Anggang pada Selasa. Pihaknya sempat kesulitan memadamkan api kebakaran hutan dan lahan di wilayah hutan lindung Liang Anggang, Kota Banjarbaru, karena ketiadaan cadangan air di kanal Karya Manuntung.

Alhasil, Dishut Kalsel membuat tabat atau sekat tradisional yang dibangun melintang di atas saluran air. Selain itu, perlu menormalisasi dan pelebaran kanal air agar pasokan air cukup bagus di kanal Karya Manuntung.

“Sehingga pemadaman, pembahasan, dan pengaliran air menggunakan lebih dari 10 unit pompa bisa memaksimalkan pemadaman dan pengaliran air di lokasi ini. Kendala awal memang pasokan air,” kata Aya—sapaan karib Fathimattuzahra, saat ditemui di Posko Hutan Lindung Liang Anggang.

Pihaknya telah antisipasi dan meminimalkan potensi kebakaran hutan dan lahan pada 2027. Ia berfokus mengamankan pasokan air pada kawasan Hutan Lindung Liang Anggang yang tahun ini terimbas karhutla cukup parah. Hutan Lindung Liang Anggang merupakan satu dari tiga titik utama penyumbang asap terbanyak di kawasan ring 1 Bandara Syamsudin Noor, Kota Banjarbaru.

Adapun dua titik lain yang menjadi fokus pemadaman api karhutla terdiri atas Guntung Damar dan Pengayuan, Kota Banjarbaru. Pemprov Kalsel sudah mengirim 50 unit pompa air untuk mengairi lahan bekas karhutla yang beririsan dengan Hutan Lindung Liang Anggang, seperti wilayah Penggalaman dan sekitarnya.

“Setelah seminggu pembasahan, air sudah mengalir dan tinggi muka air sudah 60 centimeter. Hampir tidak ada lagi asap di sana,” lanjut Aya.

Aya mengaku sudah kerja sama dengan Dinas Pekerjaan Umum Kalsel dan Balai Wilayah Sungai Kalimantan III untuk mengamankan pasokan air di kawasan Hutan Lindung Liang Anggang.

“Kami sudah kerja sama dengan PU dan BWS, ini kan pakai tabat karena elevasinya tinggi. Untuk memperbanyak pasokan air atau memastikan ketersediaan air ada terus, karena apabila tanpa tabat, airnya tidak naik, balik lagi karena elevasinya tinggi,” lanjut Aya.

Saat musim hujan, posisi tabat ditutup untuk memastikan kecukupan cadangan air kanal Karya Manuntung. Begitu kemarau, tabat dibuka untuk mengalirkan air di sepanjang kanal Karya Manuntung.

Lebih baru Lebih lama


Iklan

نموذج الاتصال