PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk berhasil mencatatkan kinerja positif sepanjang tahun buku 2025, meski dihadapkan pada tekanan penurunan permintaan semen domestik.
Berdasarkan laporan kinerja terbaru, total volume penjualan semen dan klinker Indocement tercatat sebesar 19,94 juta ton, atau turun 2,7 persen dibandingkan tahun 2024. Penurunan ini terutama dipicu oleh melemahnya pasar domestik yang menyusut 3,9 persen, khususnya pada segmen semen curah.
Sebaliknya, kinerja ekspor menunjukkan pertumbuhan signifikan dengan lonjakan sebesar 73,9 persen, menjadi salah satu penopang di tengah perlambatan pasar dalam negeri.
Dari sisi keuangan, Indocement membukukan pendapatan neto sebesar Rp17,73 triliun, turun 4,4 persen secara tahunan. Meski demikian, perusahaan mampu meningkatkan profitabilitas.
Laba tahun berjalan tercatat mencapai Rp2,25 triliun, tumbuh 12 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan ini didorong oleh efisiensi biaya, penurunan beban operasional, serta adanya keuntungan dari divestasi.
Selain itu, laba usaha meningkat signifikan menjadi Rp2,71 triliun, naik 13,1 persen, sementara EBITDA juga tumbuh 8,5 persen menjadi Rp4,27 triliun.
Di tengah tantangan industri, Indocement terus memperkuat strategi efisiensi, termasuk melalui peningkatan penggunaan bahan bakar alternatif.
Sepanjang 2025, pemanfaatan bahan bakar alternatif meningkat dari 21,4 persen menjadi 29 persen. Langkah ini berdampak positif terhadap penurunan emisi karbon, di mana emisi CO₂ berhasil ditekan dari 533 kg menjadi 512 kg per ton semen.
Selain itu, fasilitas pengumpanan biomassa di Pabrik Grobogan mulai beroperasi sejak Agustus 2025, memperkuat komitmen perusahaan terhadap keberlanjutan.
Indocement juga melakukan sejumlah langkah strategis untuk memperkuat bisnis, di antaranya:
1. Mengakuisisi dua terminal semen milik Semen Bosowa di Sulawesi Selatan dan Lombok
2. Memperpanjang kerja sama operasional pabrik dan kuari Maros
3. Membentuk usaha patungan melalui anak usaha PT Pionirbeton Industri bersama PT Cipta Mortar Utama
Langkah ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang dalam memperluas jaringan distribusi dan meningkatkan daya saing.
Dari sisi neraca, Indocement mencatat posisi keuangan yang kuat dengan kas dan setara kas mencapai Rp5,9 triliun per akhir Desember 2025.
Total aset perusahaan tumbuh menjadi Rp31,7 triliun, naik 4,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Ekuitas juga meningkat 4,9 persen, mencerminkan fundamental perusahaan yang tetap kokoh.
Memasuki 2026, Indocement memproyeksikan permintaan semen mulai membaik seiring berakhirnya musim hujan dan meningkatnya aktivitas konstruksi.
Namun demikian, perusahaan tetap mewaspadai sejumlah risiko, seperti ketidakpastian geopolitik dan potensi kenaikan biaya energi, terutama batu bara dan bahan bakar.
Untuk itu, disiplin pengendalian biaya serta peningkatan penggunaan energi alternatif akan tetap menjadi fokus utama guna menjaga kinerja di tengah dinamika industri. (Gusti Mahmuddin Noor)

