Tradisi Intelektualitas Iran yang Mengagungkan Vs Intelektualitas Angka Kredit Omon-omon


Tradisi intelektualitas Iran merupakan representasi dari peradaban yang menjadikan ilmu sebagai fondasi utama kehidupan sosial dan spiritual. Dalam sejarah panjangnya, Iran tidak hanya melahirkan ilmuwan, tetapi juga pemikir yang menjadikan ilmu sebagai jalan pencarian kebenaran. Intelektualitas tidak direduksi menjadi sekadar aktivitas administratif atau formalitas akademik semata. Ia tumbuh sebagai kesadaran kolektif yang mengakar dalam kehidupan masyarakat. Karena itu, berpikir di Iran adalah tindakan eksistensial, bukan sekadar profesi.

Berbeda dengan realitas di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia, intelektualitas sering kali terjebak dalam logika angka kredit dan formalitas birokrasi. Gelar akademik tidak selalu mencerminkan kedalaman berpikir, melainkan sering menjadi simbol status sosial. Dalam kondisi seperti ini, aktivitas ilmiah kehilangan ruhnya sebagai upaya pencarian kebenaran. Yang tersisa hanyalah rutinitas produksi karya ilmiah yang miskin substansi. Fenomena ini melahirkan apa yang dapat disebut sebagai intelektualitas omon-omon.

Intelektualitas omon-omon adalah bentuk degradasi dari tradisi berpikir yang sejatinya luhur. Ia ditandai oleh banyaknya wacana tanpa kedalaman, kritik tanpa basis analisis, serta gagasan tanpa kontribusi nyata. Para pelakunya sering kali lebih sibuk membangun citra daripada membangun argumen. Diskursus publik menjadi penuh kebisingan, tetapi miskin makna. Dalam situasi ini, ilmu kehilangan otoritasnya sebagai penuntun peradaban.

Sementara itu, Iran menunjukkan model yang berbeda dalam memaknai intelektualitas. Tradisi hauzah dan pusat-pusat studi filsafat di sana menjadi ruang dialektika yang hidup. Para intelektual tidak takut berdebat, bahkan dalam isu-isu yang paling fundamental. Perdebatan tidak dimaknai sebagai konflik personal, melainkan sebagai upaya kolektif untuk menemukan kebenaran. Hal ini menciptakan budaya berpikir yang sehat dan produktif.

Di Iran, seorang intelektual diukur bukan dari jumlah publikasi semata, tetapi dari kedalaman gagasan yang ia hasilkan. Karya yang lahir bukan sekadar memenuhi kewajiban administratif, tetapi merupakan refleksi dari pergulatan intelektual yang panjang. Proses berpikir menjadi lebih penting daripada hasil instan. Dengan demikian, kualitas lebih diutamakan daripada kuantitas. Ini adalah sesuatu yang semakin langka dalam sistem akademik modern.

Sistem angka kredit dalam dunia akademik sebenarnya memiliki tujuan baik, yaitu sebagai alat ukur kinerja. Namun, dalam praktiknya, sistem ini sering kali disalahgunakan dan menjadi tujuan itu sendiri. Para akademisi berlomba-lomba mengumpulkan poin tanpa memperhatikan substansi karya. Hal ini menciptakan budaya pragmatis yang merusak integritas intelektual. Ilmu pun tereduksi menjadi sekadar angka.

Kondisi ini diperparah dengan maraknya praktik plagiarisme dan publikasi di jurnal predator. Banyak akademisi lebih memilih jalan pintas untuk memenuhi target administratif. Etika akademik menjadi korban dari tekanan sistem yang tidak sehat. Dalam jangka panjang, hal ini merusak kredibilitas dunia pendidikan. Intelektualitas pun kehilangan legitimasi moralnya.

Berbeda dengan itu, tradisi intelektual Iran menempatkan etika sebagai bagian integral dari aktivitas ilmiah. Kejujuran intelektual menjadi nilai yang dijunjung tinggi. Seorang pemikir tidak hanya bertanggung jawab kepada institusi, tetapi juga kepada kebenaran itu sendiri. Hal ini menciptakan standar moral yang tinggi dalam dunia akademik. Ilmu tidak hanya menjadi alat, tetapi juga amanah.

Di Iran, hubungan antara ilmu dan agama tidak dipertentangkan, melainkan disintesiskan. Filsafat, teologi, dan ilmu sosial berkembang dalam dialog yang konstruktif. Hal ini memungkinkan lahirnya pemikiran yang komprehensif dan mendalam. Intelektualitas tidak terjebak dalam sekularisasi sempit atau dogmatisme kaku. Ia berkembang dalam keseimbangan antara rasio dan wahyu.

Sebaliknya, di banyak tempat, termasuk Indonesia, terjadi fragmentasi ilmu yang cukup serius. Ilmu-ilmu berkembang secara terpisah tanpa dialog yang memadai. Hal ini menyebabkan pemahaman yang parsial terhadap realitas. Intelektualitas kehilangan kemampuan untuk melihat persoalan secara holistik. Akibatnya, solusi yang dihasilkan sering kali tidak menyentuh akar masalah.

Fenomena intelektualitas omon-omon juga terlihat dalam ruang publik. Banyak tokoh yang tampil sebagai intelektual, tetapi minim kontribusi pemikiran yang substansial. Mereka lebih mengandalkan retorika daripada analisis. Media sosial menjadi panggung utama bagi produksi wacana dangkal. Diskursus publik pun mengalami degradasi kualitas.

Di Iran, meskipun terdapat berbagai keterbatasan politik, ruang intelektual tetap hidup dan dinamis. Kritik terhadap pemerintah atau sistem tetap muncul dalam bentuk yang argumentatif. Intelektual memainkan peran sebagai penjaga nurani publik. Mereka tidak sekadar menjadi penonton, tetapi juga aktor dalam perubahan sosial. Hal ini menunjukkan pentingnya peran intelektual dalam kehidupan berbangsa.

Sistem pendidikan di Iran juga berperan penting dalam membentuk tradisi intelektual yang kuat. Kurikulum tidak hanya menekankan pada hafalan, tetapi juga pada analisis dan argumentasi. Mahasiswa dilatih untuk berpikir kritis sejak dini. Diskusi dan debat menjadi bagian penting dari proses pembelajaran. Ini menciptakan generasi yang memiliki kapasitas intelektual yang mumpuni.

Sebaliknya, sistem pendidikan yang terlalu berorientasi pada nilai dan sertifikasi cenderung melahirkan lulusan yang kurang kritis. Mereka terbiasa mengikuti aturan tanpa mempertanyakan. Kreativitas dan keberanian berpikir menjadi terhambat. Hal ini menjadi salah satu penyebab munculnya intelektualitas semu. Pendidikan kehilangan fungsinya sebagai pembebas.

Intelektualitas sejati membutuhkan keberanian untuk berbeda. Di Iran, perbedaan pendapat tidak selalu dianggap sebagai ancaman. Justru dari perbedaan itulah lahir pemikiran baru yang lebih kaya. Tradisi dialog menjadi fondasi utama dalam perkembangan ilmu. Hal ini menciptakan dinamika intelektual yang sehat.

Sebaliknya, dalam budaya yang terlalu birokratis, perbedaan sering kali dianggap sebagai pembangkangan. Akademisi cenderung bermain aman demi menjaga posisi. Kritik menjadi sesuatu yang dihindari. Hal ini menciptakan stagnasi dalam dunia intelektual. Ilmu tidak berkembang karena tidak ada tantangan.

Budaya membaca juga menjadi faktor penting dalam tradisi intelektual Iran. Buku masih menjadi sumber utama pengetahuan. Diskusi berbasis literatur menjadi hal yang lazim. Hal ini berbeda dengan budaya instan yang lebih mengandalkan informasi singkat. Kedalaman berpikir pun terancam oleh kecepatan informasi.

Intelektualitas omon-omon sering kali lahir dari minimnya tradisi membaca. Tanpa fondasi literatur yang kuat, pemikiran menjadi dangkal. Argumen tidak memiliki basis yang kokoh. Diskursus menjadi penuh asumsi tanpa data. Ini adalah problem serius dalam dunia akademik kontemporer.

Iran juga menunjukkan bahwa intelektualitas dapat menjadi kekuatan geopolitik. Pemikiran strategis yang lahir dari tradisi akademik mampu mempengaruhi kebijakan negara. Intelektual tidak terpisah dari kekuasaan, tetapi juga tidak sepenuhnya tunduk. Mereka menjadi mitra kritis dalam pembangunan. Ini menciptakan keseimbangan yang produktif.

Sebaliknya, ketika intelektual terlalu dekat dengan kekuasaan tanpa sikap kritis, mereka kehilangan independensi. Ilmu menjadi alat legitimasi politik. Kritik menjadi tumpul. Hal ini berbahaya bagi demokrasi. Intelektualitas berubah menjadi propaganda.

Fenomena angka kredit juga menciptakan kompetisi yang tidak sehat di kalangan akademisi. Mereka saling bersaing dalam hal kuantitas, bukan kualitas. Kolaborasi menjadi terhambat. Dunia akademik berubah menjadi arena perlombaan administratif. Ini merusak semangat kolektif dalam pengembangan ilmu.

Di Iran, meskipun tidak sempurna, kolaborasi intelektual tetap terjaga. Para akademisi dan ulama sering bekerja bersama dalam proyek pemikiran. Hal ini memperkaya perspektif yang dihasilkan. Ilmu berkembang melalui sinergi, bukan kompetisi semata. Ini adalah pelajaran penting bagi dunia akademik.

Intelektualitas sejati juga membutuhkan waktu. Ia tidak bisa diproduksi secara instan. Proses kontemplasi dan refleksi menjadi bagian penting. Di Iran, tradisi ini masih dijaga. Pemikir tidak terburu-buru dalam menghasilkan karya. Sebaliknya, tekanan untuk memenuhi target sering kali membuat akademisi mengabaikan proses. Mereka lebih fokus pada output daripada pemahaman. Hal ini menciptakan karya-karya yang dangkal. Ilmu kehilangan kedalamannya.

Peran negara juga penting dalam membentuk tradisi intelektual. Iran menunjukkan komitmen dalam mendukung pengembangan ilmu. Meskipun menghadapi berbagai sanksi internasional, mereka tetap berinvestasi dalam pendidikan. Hal ini menunjukkan bahwa intelektualitas adalah prioritas strategis. Sebaliknya, jika negara tidak serius dalam mendukung dunia akademik, maka kualitas intelektual akan menurun. Anggaran pendidikan menjadi minim. Fasilitas tidak memadai. Hal ini menghambat perkembangan ilmu. Intelektualitas pun terpinggirkan.

Intelektualitas omon-omon juga sering kali diproduksi oleh sistem yang tidak menghargai kualitas. Ketika penghargaan lebih diberikan pada kuantitas, maka orientasi pun berubah. Akademisi menyesuaikan diri dengan sistem. Integritas menjadi korban. Di Iran, penghargaan terhadap pemikir tidak hanya bersifat material, tetapi juga moral. Mereka dihormati karena kontribusi pemikirannya. Hal ini menciptakan motivasi intrinsik. Ilmu menjadi panggilan, bukan sekadar pekerjaan.

Media juga berperan dalam membentuk persepsi tentang intelektualitas. Di banyak tempat, media lebih menonjolkan sensasi daripada substansi. Tokoh yang populer belum tentu berkualitas. Hal ini menciptakan bias dalam penilaian publik. Sebaliknya, jika media memberi ruang bagi diskursus yang berkualitas, maka intelektualitas akan berkembang. Publik akan terbiasa dengan argumen yang mendalam. Ini penting untuk membangun budaya berpikir kritis.

Intelektualitas sejati juga menuntut konsistensi. Seorang pemikir tidak hanya berbicara, tetapi juga menunjukkan integritas dalam tindakan. Di Iran, banyak intelektual yang tetap teguh pada prinsipnya. Mereka tidak mudah tergoda oleh kepentingan sesaat. Sebaliknya, intelektualitas omon-omon sering kali bersifat oportunistik. Pendapat berubah sesuai kepentingan. Tidak ada komitmen terhadap kebenaran. Hal ini merusak kepercayaan publik.

Perbedaan mendasar antara kedua tradisi ini terletak pada orientasi. Iran berorientasi pada kebenaran, sementara intelektualitas angka kredit berorientasi pada pengakuan. Ini adalah dua hal yang sangat berbeda. Yang satu membangun peradaban, yang lain merusaknya secara perlahan. Dalam konteks global, tantangan terhadap intelektualitas semakin kompleks. Arus informasi yang cepat membuat kedalaman berpikir terancam. Dalam situasi ini, tradisi seperti yang ada di Iran menjadi relevan. Ia menawarkan alternatif terhadap budaya instan.

Indonesia perlu belajar dari tradisi ini tanpa harus menirunya secara mentah. Yang perlu diambil adalah semangatnya, bukan bentuk luarnya. Intelektualitas harus dikembalikan pada fungsi dasarnya. Yaitu sebagai alat untuk memahami dan memperbaiki realitas. Reformasi sistem akademik menjadi hal yang mendesak. Angka kredit harus ditempatkan sebagai alat, bukan tujuan. Evaluasi kualitas harus diperkuat. Etika akademik harus ditegakkan. Ini adalah langkah awal menuju perbaikan.

Selain itu, budaya membaca dan diskusi harus dihidupkan kembali. Kampus harus menjadi ruang dialektika yang sehat. Mahasiswa perlu didorong untuk berpikir kritis. Ini adalah investasi jangka panjang. Peran intelektual dalam masyarakat juga harus diperkuat. Mereka tidak boleh hanya berada di menara gading. Harus terlibat dalam persoalan publik. Ini penting untuk menjaga relevansi ilmu.

Akhirnya, intelektualitas bukan soal gelar atau jabatan, tetapi soal komitmen terhadap kebenaran. Tanpa itu, ilmu hanya menjadi alat kosong. Tradisi Iran menunjukkan bahwa intelektualitas bisa menjadi kekuatan peradaban. Sementara intelektualitas omon-omon hanya akan membawa kemunduran. Pilihan ada di tangan kita sebagai bangsa. Apakah akan terus terjebak dalam formalitas tanpa substansi, atau berani membangun tradisi intelektual yang sejati. Perubahan tidak akan terjadi tanpa kesadaran kolektif. Inilah saatnya untuk merefleksikan kembali arah dunia akademik kita. Jika tidak, kita hanya akan menjadi penonton dalam peradaban yang kita sendiri gagal bangun.

Penulis: Dr. Muhammad Uhaib As’ad, M.Si (Akademisi, Direktur Kajian Ekonomi Politik dan Kebijakan Publik Kalimantan Selatan, President International Institute of Influencers Indonesia)
Lebih baru Lebih lama



HUT GUB KALSEL
Iklan

نموذج الاتصال