Kerinduan terhadap sosok cendekiawan seperti Ali Shariati dan Ali Larijani sejatinya bukan sekadar nostalgia intelektual, melainkan refleksi atas krisis kepemimpinan berpikir di dunia modern. Di tengah hiruk-pikuk politik yang semakin pragmatis, figur-figur yang mampu menjembatani antara gagasan, moralitas, dan tindakan politik menjadi semakin langka. Persia, sebagai salah satu pusat peradaban besar dunia, pernah melahirkan tokoh-tokoh yang tidak hanya berpikir dalam, tetapi juga berani menggugat tatanan yang mapan. Shariati dan Larijani adalah representasi dari tradisi intelektual yang tidak terjebak dalam menara gading. Mereka hadir sebagai pemikir sekaligus pelaku dalam arus sejarah. Kerinduan ini adalah sinyal bahwa dunia sedang kekurangan suara yang bernas dan berakar.
Ali Shariati dikenal sebagai sosok intelektual revolusioner yang mampu mengawinkan antara Islam, sosiologi, dan kritik terhadap ketidakadilan. Ia bukan ulama dalam arti klasik, tetapi memiliki pengaruh besar terhadap kesadaran keagamaan generasi muda Iran. Melalui karya-karyanya, Shariati berhasil membumikan agama sebagai kekuatan emansipatoris. Ia menolak agama yang pasif dan hanya menjadi alat legitimasi kekuasaan. Dalam pandangannya, Islam adalah energi perubahan sosial yang progresif. Gagasan-gagasannya menjadi bahan bakar ideologis bagi Revolusi Iran 1979. Hingga kini, warisannya tetap relevan dalam membaca hubungan antara agama dan kekuasaan.
Sementara itu, Ali Larijani merepresentasikan wajah lain dari kecendekiawanan Persia yang lebih institusional dan strategis. Ia bukan sekadar politisi, tetapi juga pemikir yang memahami kompleksitas geopolitik modern. Dengan latar belakang filsafat dan pengalaman panjang dalam pemerintahan, Larijani mampu memainkan peran sebagai jembatan antara ide dan kebijakan. Ia memahami bahwa dalam dunia nyata, gagasan harus diterjemahkan ke dalam strategi yang konkret. Dalam banyak kesempatan, Larijani menunjukkan kemampuan untuk berpikir sistemik dan jangka panjang. Ia adalah contoh bagaimana intelektual dapat berperan dalam lingkar kekuasaan tanpa kehilangan kedalaman analisis.
Kerinduan terhadap dua sosok ini juga mencerminkan kegelisahan terhadap dominasi intelektual yang dangkal dan serba instan. Di era media sosial, opini sering kali lebih dihargai daripada pemikiran yang mendalam. Diskursus publik dipenuhi oleh simplifikasi dan polarisasi. Dalam situasi seperti ini, figur seperti Shariati dan Larijani menjadi sangat relevan. Mereka mengajarkan pentingnya kedalaman, refleksi, dan keberanian berpikir. Tanpa itu, masyarakat akan mudah terjebak dalam manipulasi narasi. Kerinduan ini adalah bentuk kritik terhadap kondisi intelektual saat ini.
Persia memiliki tradisi panjang dalam melahirkan pemikir besar, mulai dari Ibnu Sina hingga Mulla Sadra. Tradisi ini menunjukkan bahwa intelektualitas bukanlah sesuatu yang muncul secara tiba-tiba, melainkan hasil dari proses sejarah yang panjang. Shariati dan Larijani adalah bagian dari rantai panjang tersebut. Mereka tidak muncul dari ruang kosong, tetapi dari tradisi yang menghargai ilmu dan refleksi. Oleh karena itu, kerinduan terhadap mereka juga berarti kerinduan terhadap ekosistem intelektual yang sehat. Tanpa ekosistem tersebut, sulit untuk melahirkan tokoh-tokoh serupa. Ini menjadi tantangan bagi generasi saat ini.
Ali Shariati mengajarkan bahwa intelektual tidak boleh netral dalam menghadapi ketidakadilan. Ia percaya bahwa berpikir adalah bentuk tanggung jawab moral. Dalam banyak tulisannya, ia menekankan pentingnya keberpihakan kepada kaum tertindas. Ini menjadikan dirinya bukan sekadar akademisi, tetapi juga aktivis pemikiran. Ia mampu menggerakkan kesadaran kolektif melalui kata-kata. Dalam konteks hari ini, pesan ini terasa semakin penting. Dunia yang penuh ketimpangan membutuhkan suara-suara yang berani dan jujur.
Di sisi lain, Ali Larijani menunjukkan bahwa intelektual juga harus mampu beradaptasi dengan realitas politik. Idealitas tanpa strategi hanya akan menjadi utopia. Larijani memahami bahwa perubahan tidak selalu terjadi melalui revolusi, tetapi juga melalui proses institusional. Ia mampu bekerja dalam sistem tanpa sepenuhnya larut dalam pragmatisme. Ini adalah keseimbangan yang sulit dicapai. Banyak intelektual yang kehilangan idealisme ketika masuk ke dalam kekuasaan. Larijani memberikan contoh bahwa hal tersebut tidak selalu harus terjadi.
Kerinduan ini juga mencerminkan kebutuhan akan kepemimpinan intelektual yang visioner. Dunia saat ini menghadapi berbagai krisis, mulai dari ketimpangan ekonomi hingga konflik geopolitik. Dalam situasi seperti ini, dibutuhkan pemikir yang mampu melihat jauh ke depan. Shariati dan Larijani memiliki kemampuan tersebut. Mereka tidak hanya merespons keadaan, tetapi juga membentuk arah. Ini adalah kualitas yang semakin jarang ditemukan. Tanpa visi, kebijakan hanya akan bersifat reaktif.
Namun, penting untuk diakui bahwa kedua tokoh ini juga tidak tanpa kritik. Shariati, misalnya, sering dianggap terlalu ideologis dan romantis dalam melihat perubahan sosial. Sementara Larijani juga tidak lepas dari kritik sebagai bagian dari elit politik. Mengakui hal ini penting agar kerinduan tidak berubah menjadi glorifikasi berlebihan. Kritik justru membantu kita memahami mereka secara lebih utuh. Dari situ, kita bisa mengambil pelajaran yang lebih relevan. Kerinduan yang sehat adalah kerinduan yang kritis.
Pada akhirnya, merindukan sosok seperti Ali Shariati dan Ali Larijani adalah merindukan keberanian berpikir dan kedalaman analisis. Dunia tidak kekurangan orang pintar, tetapi kekurangan orang yang mampu menghubungkan ilmu dengan realitas. Persia pernah menunjukkan bahwa hal tersebut mungkin. Tantangannya kini adalah bagaimana melahirkan kembali tradisi tersebut dalam konteks yang baru. Kerinduan ini seharusnya tidak berhenti pada romantisme masa lalu. Ia harus menjadi dorongan untuk membangun masa depan yang lebih bernas dan bermakna.
Penulis: Dr. Muhammad Uhaib As'ad, M.Si (Akademisi, Direktur Kajian Ekonomi Politik dan Kebijakan Publik Kalimantan Selatan, President International Institute of Influencers Indonesia)

