Innalilahi Wa Innailaihi Rojiun. Kabar duka itu muncul di beranda Facebook untuk akun Airlangga Pribadi. Nama lengkapnya Airlangga Pribadi Kusman, 49 tahun. Lini massa di akun Mas Angga-- saya memanggilnya-- dipenuhi ucapkan duka cita atas wafatnya Mas Angga, pada Rabu, 9 September 2026.
Saya mantan mahasiswanya ketika saya masih menempuh pendidikan S1 jurusan Ilmu Politik pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga, Surabaya, periode 2004 - 2011. Saat itu, sosok almarhum memang dikenal sebagai salah satu dosen muda yang progresif dan kritis di lingkungan FISIP Unair.
Mas Angga menjadi dosen Ilmu Politik Unair sejak 2004, setelah lulus S1 Ilmu Politik Unair pada 2002. Lalu, ia melanjutkan S2 Ilmu Politik di Universitas Indonesia dan program doktoral di Murdoch University, Australia. Kini, reputasinya sebagai dosen cum pemikir sosial politik tidak perlu diragukan lagi.
Sebagai intelektual organik, Mas Angga pergi terlalu cepat menghadap Sang Khalik di usia 49 tahun. Di akhir hayatnya, ia masih bergulat dengan pemikiran dan kata-kata untuk menyusun artikel terbarunya terkait pemikiran Bung Karno. Mas Angga mendapat serangan jantung, lalu dievakuasi ke RSPAD Gatot Subroto, Jakarta, pada Rabu lalu.
Ia meninggal dunia saat menuangkan aktivitas intelektualnya ke dalam tulisan. Mas Angga meninggal saat sedang bekerja untuk keabadian. Seperti Pramoedya Ananta Toer katakan: Menulis adalah bekerja untuk keabadian.
Jika diberikan umur panjang, saya hakulyakin suatu saat Mas Angga bakal meraih status Guru Besar Ilmu Politik Unair.
Almarhum telah menerbitkan beberapa karya buku bertema sosial politik, seperti The Vortex of Power: Intellectuals and Politics in Indonesia’s Post Authoritarian Era (2019), Merahnya Ajaran Bung Karno: Narasi Pembebasan ala Indonesia (2022), dan Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen Z (2026) yang ditulis bareng Rocky Gerung. Mas Angga juga pernah menjadi anggota panitia seleksi komisioner KPU dan Bawaslu RI periode 2022-2027.
Sosok dosen muda itu dan mahasiswanya:
Di luar kesan dan kesaksian atas sosok almarhum Airlangga Pribadi Kusman yang telah banyak ditulis koleganya, saya punya pengalaman menarik selama berhubungan dengan sosok Mas Angga. Sebagai dosen muda saat itu era 2004 dan awal saya kuliah di jurusan Ilmu Politik Unair, Mas Angga tampil luwes tanpa menjaga jarak dengan para mahasiswa.
Sosoknya kerap berdiskusi secara egaliter. Ia sering meriung diskusi di kantin belakang FISIP Unair, dan sesekali aktif berorasi di taman tengah gedung A FISIP Unair.
Sikap semacam ini yang membuat saya tak canggung ketika mendekati Mas Angga. Maklum, saat itu saya nyambi bekerja menjual tiket pesawat. Di sela ngobrol ringan di kantin belakang FISIP Unair, saya coba-coba menawarkan jasa pembelian tiket pesawat ke Mas Angga. Saat itu, beli tiket pesawat belum segampang saat ini lewat aplikasi online travel agent.
Ia lekas merespons positif atas tawaran saya. Sejak saat itu sampai saya lulus tahun 2011, Mas Angga kerap pesan tiket pesawat lewat saya. Ia kerap pesan tiket pesawat rute Surabaya (SUB) – Jakarta (CGK), bahkan beberapa kali beli tiket pergi-pulang. Sebelum beli tiket, almarhum biasanya lebih dulu mencari informasi jadwal keberangkatan, maskapai dan harga tiket.
Karena pola kerjanya masih manual, saya pun mengontak kantor travel untuk memilihkan opsi maskapai penerbangan yang dipesan. Sekalipun harga tiket pesawat mahal, seingat saya, almarhum tidak pernah membatalkan pembelian tiket melalui saya. Saat itu, harga tiket pesawat masih relatif murah ketimbang harga tiket pesawat saat ini.
Sebelum tahun 2010, rentang harga tiket masih sekitar Rp250 ribu - Rp400 ribuan untuk rute penerbangan SUB - CGK. Jika saya ke kampus, saya biasanya membawakan tiket pesanan Mas Angga. Tiket pesawat baru dibayar setelah di tangan. Opsi lain, saya menunggu Mas Angga di Bandara Juanda Surabaya, di Sidoarjo.
Almarhum Mas Angga kerap mengajak saya untuk makan atau ngopi di bandara sembari menunggu jadwal keberangkatan pesawat. Mas Angga turut membukakan pintu rejeki dengan mengenalkan beberapa koleganya agar membeli tiket pesawat melalui saya.
Enam tahun kuliah, tiba waktunya saya menyusun skripsi pada 2010. Sekalipun banyak dosen Ilmu Politik yang lebih senior, saya memutuskan Mas Angga sebagai dosen pembimbing skripsi karena saya telah mengenal kepribadiannya.
Saat itu, saya menemuinya di ruang dosen Ilmu Politik, lalu memohon agar Mas Angga membantu proses penyusunan skripsi karena masa studi saya sudah mendekati tujuh tahun.
Saya masih ingat pesan dari Mas Angga saat itu: “Saya akan bantu, tapi kamu harus berusaha juga.”
Lalu, ia meminjamkan beberapa buku bacaan sebagai referensi teori untuk bahan penyusunan skripsi. Selain buku-buku yang dipinjamkan itu, saya masih melengkapi referensi dari buku-buku lain, baik pinjam di perpustakaan Unair dan beli buku sendiri.
Setelah melewati tahapan penyusunan skripsi, ujian skripsi pun berjalan sukses di hadapan tiga dosen penguji skripsi. Saya akhirnya mengikuti wisuda pada 2011. Sejak lulus kuliah, saya tidak lagi menjual tiket pesawat. Saya dan Mas Angga pun tak pernah lagi bersua. Namun, saya tetap mengikuti sepak terjang Mas Angga lewat pemberitaan dan media sosial.
Sekian lama tak berkomunikasi, saya mengontak Mas Angga pada akhir tahun 2020. Sebelum itu, seorang kolega Mas Angga dan dosen Universitas Islam Kalimantan di Banjarmasin, M. Uhaid Asad, bertanya kepada saya apakah saya mengenal Angga.
Tentu saya mengatakan bahwa Mas Angga adalah dosen pembimbing skripsi saya. Kata Pak Uhaib, Angga sempat mengontaknya ketika saya sedang dibui gara-gara sengketa karya jurnalistik konflik lahan masyarakat Dayak melawan PT Jhonlin Agro Raya, di Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan.
Setelah pertemuan di rumah Pak Uhaib, saya lekas mengontak Mas Angga. Ia masih ingat saya. Mas Angga memang mengikuti pemberitaan terkait nasib saya sebagai wartawan yang dibui karena sengketa karya jurnalistik.
“Saya salut kamu berani melawan,” kata Mas Angga di ujung telepon saat itu. Ia menularkan semangatnya sebagai akademisi progresif yang konsisten melawan ketidakadilan sosial, politik dan ekonomi. Sepemahaman saya, Mas Angga antusias menyoroti hubungan antara demokrasi dan oligarki.
Setelah itu, kami pun lagi-lagi hilang kontak karena kesibukan masing-masing. Rabu sore, 9 September 2026, saya terkejut membaca kabar duka di akun Facebook milik Airlangga Pribadi. Tak percaya atas kabar duka itu, saya coba browsing soal meninggalnya Mas Angga. Benar, sosok intelektual organik itu telah menghadap Sang Khalik.
Bagi saya, Mas Angga tak hanya dosen yang mengajarkan teori, ilmu, dan pemikiran kritis di ruang-ruang kelas perkuliahan, namun almarhum ikut membuka pintu rejeki bagi mahasiswanya dan menularkan spirit perlawanan.
Maturnuwun, sugeng tindak Mas Angga.
Diananta Putra Sumedi
Alumni Ilmu Politik Unair

